Selasa, 16 September 2008

sedikit tentang edible

II.1. Edible Film

Edible film adalah suatu lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, dibentuk untuk melapisi makan (coating) atau diletakkan diantara komponen makanan (film) yag berfungsi sebagai penghalang terhadap perpindahan massa (misalnya kelembaban, oksigen, cahaya, lipid dan zat terlarut) dan sebagai pembawa aditif serta untuk meningkatkan penanganan suatu makanan (krochta, 1992).

Biodegradable film alginat mempunyai keunggulan dibandingkan bahan-bahan pengemas polimer biasa atau plastik. kelebihan itu antara lain dapat mengurangi terjadinya susut bahan yang dikemas, mencegah terjadinya ketengikan oksidatif, mengurangi perpindahan uap air, mengurangi penyerapan minyak kedalam produk yang digoreng, dan mengurangi menguapnya senyawa volatil yang diinginkan. Biopolimer amat penting untuk keperluan industri seperti pangan, farmasi, kecantikan dan berbagai bahan pengemas biodegradable bahkan edible (Anonim A, 2007).

II.2. Jenis-Jenis dan Kegunaan Edible

Edible Packaging dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu yang berfungsi sebagai pelapis (coating) dan yang berbentuk sebagai lembaran (disebut film) sehingga dikenal istilah edible coating dan edible film. edible coating banyak digunakan untuk pelapis produk daging beku, kamasan semi basah, ayam beku, produk hasil laut, sosis, buah-buahan dan obat-obatan terutama untuk pelapis kapsul. sdangkan edible film digunakan untuk prosuk pangan dan penguasaan teknologinya masih terbatas. Edible film sangat potensial digunakan sebagai pembungkus dan pelapis produk-produk panganj, industri, farmasi maupun hasil-hasil pertanian (Krochta, 1992).

Edible coating terdiridari bahan baku hidrokoloid yag dicampur dan diaduk kemudian ditambahkan gliserol menghasilkan larutan hidrokoloid, dilakukan pemanasan pada suhu 400C selama 15 menit, kemudian pH diatur dengan menggunakan kalsium klorida 0,5% pada pH 6 diaduk sampai terjadi larutan Edble coating/ selain sebagai pembungkus produk. Edible coating juga banyak digunakan untuk mengoles prosuk confentionery sehingga produk tersebut nampak mengkilap (Anonim A, 2007)

II.3. Komponen Penyusun Edible

Komponen-kompponen penyusun edible packaging mempengaruhi secara langsung bentuk morfologi maupun karakteristik pengemas yang dihasilkan. Komponen utama penyusun edible film dikemlompokkan menjadi tiga yaitu hidrokologi, lipida dan komposit. Hidrokoloid banyak diperoleh dari protein utuh, selulosa dan

turunannya, alginat, pektin dan pati. Dari kelompok lipida yang serig digunakan lilin asilgliserol dan asam lemak. Komposit adalah bahan yang didasarkan pada campuran hidrokoloid dan lipida (Anonim A, 2007).

Bahan baku yang ditambahkan antara lain anti mikroba, anti oksidan, flavor, pewarna, dan palsticizer. Bahan anti mikroba yang umumnya sering digunakan adalah asam benzoat, asam sorbat, kalium sorbat, dan asam propinoat. Anti oksidan diperlukan untuk melindungi dari reaksi oksidasi, degradasi, dan pemudaran. Anti oksidan yang sering digunakan berupa senyawa fenolik.yang digunakan adalah BHA, BHT, propil galat dan tookoferol. Jenis plasticizer yang umum digunakan adalah gliserol (Anonim A, 2007).

Palsticizer didefinisakan sebagai bahan non volatil, bertitik didih tinggi jika ditambahkan pada material lain dapat merubah sifat material tersebut. Penambahan plasticizer dapat menurunkan kekuatan intermolekuler meningkatkan fleksibilitas film dan menurunkan sifat barrier film. Gliserol dan sorbitol merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hydrogen internal pada ikatan intermolekular, plasticizer ditambahkan pada pembuatan edible film untuk mengurangi kerapuhan, meningkatkan flesibilitas dan ketahanan film terutama jika disimpan pada suhu rendah (Anonim B, 2007)

II.4. Fungsi Kemasan

Fungsi pengemas pada bahan pangan adalah mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi bahan pangan dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan benruran dan getaran. Selain itu pengemesan berfungsi sebagai wadah agar mempunyai bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan pendstribusian. Plastik merupakan salah satu bahan kemasan yang banyak digunakan untuk mengemas bahan pangan atau produk makanan karena keunggulannya dalam bentuk yang fleksibel sehingga dapat mengikuti bentuk bahan yng dikemas, sifat transparan (tembus pandang) yang menyababkan produk yang dikemas dapat dilihat dari luar serta memudahkan dalam transportasi bahan yang dikemas. Sisi lain plastik mempunyai kelemahan pula, yaitu tidak tahan panas dan beberapa jenis diketahui dapat mengkontaminasi produk yang dikemas, dimana sering kontaminannya bersifat toksik bagi manusia atau paling tidak menyebabkan penurunan mutu bahan yang dikemas. (Anonim C 2007)

Fungsi kemasan menurut Hartanto (2000), ada beberapa antara lain meliputi :

  1. Faktor pengamanan, melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menimbulkan kerusakan barang dari cuaca, sinar, tumpukan, kuman, serangga dan lainnya
  2. Faktor ekonomi, perhitungan biaya harus efektif termasuk pe,ilihan bahan kemas
  3. Faktor distibusi, mudah didistribusikan dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai konsumen
  4. Faktor komunikasi, sebagai media komunikasi yang menerangkan atau mencerminkan produk. Citra merek dan juga sebagai bahan promosi dengan pertimbangan mudah dilihat, mudah dipahami dan diingat.

II. 5. Karakteristik Film

Karakteristik mekanik suatu film kemasan terdiri dari : kuat tarik (tensile strenth), kuat tusuk (pencture strenght), persen perpanjangan (elengation to break) dan elastisitas (elastic/young modulus) paramter-parameter tersebut dapat menjelaskan bagaimana karakteristik mekanik dari baha film yang berkaitan dnegan struktur kimianya. Selain itu, juga menunjukkan indikasi integrasi film pada kondisi tekanan (stress) yang terjadi selama proses pembentukan film kuat tarik adalah gaya tarik maksimum yang dapat ditahan oleh film selama pengukuran berlangsung. Kuat tarik dipengaruhi oleh bahan pemlastis yng ditambahkan selama proses pembutan film, sedangkan kuat tusuk menggambarkan tusukan maksimum yang dapat ditahan oleh film. Film dengan struktur yang kaku akan menghasilkan nilai kuat tusuk yang tinggi atau tahan terhadap tusukan. Adapun persen pemanjangan merupakan perubahan panjang maksimum film sebeblum terputus. Berlawanan dengan itu adalah elatisitas akan semakin menurun jika seiring dengan meningkatnya jumlah bahan pemlastis dalam film. Elastisitas merupakan kekuatan ukuran film yang dihasilkan (Latief, 2001)

Senin, 15 September 2008

Manajemen Resiko

Dalam manajemen resiko, kita perlu menyadari bahwa segala benda di dunia ini memiliki resiko untuk mengalami kerusakan, termasuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menganalisa resiko-resiko apa aja yang ada, berapa besar peluang resiko tersebut terjadi, beserta berapa besar kerugian yang akan dialami. Untuk resiko-resiko yang dapat menimbulkan kerugian besar ataupun memiliki peluang tinggi, kita perlu menyiapkan rencana antisipasi agar kehidupan rutin kita jangan sampai terlalu banyak terganggu apabila kerusakan tersebut terjadi.

Sebagai contoh, perhatikan cerita dibawah ini:

James adalah seorang manager di perusahaan swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Beliau sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Setiap harinya James mengendarai sedan Balenonya untuk pergi ke kantor.

Pada suatu hari, musibah datang menimpa James. Mobil sedan yang dikendarainya ditabrak oleh bus yang melanggar lampu merah. Mobil James mengalami kerusakan parah sementara James sendiri jatuh tidak sadarkan diri sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit.

Ternyata luka yang dialami oleh James cukup parah. Selama seminggu James berada dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri. Setelah sadar, James masih harus dirawat nginap dalam rumah sakit selama dua minggu dan setelah itu kesehatan James harus dicek setiap seminggunya. Sementara tangannya yang mengalami patah tulang tidak bisa digunakan untuk bekerja selama 3 bulan.

Perusahaan tempat James bekerja merasa turut berduka cita atas musibah yang menimpa James. Mereka mengirimkan bunga dan menjenguk James pada saat di rumah sakit. Namun karena James tidak bisa bekerja dalam 3 bulan mendatang, mereka memutuskan untuk memberhentikan James.

Berapa kerugian finansial yang diderita oleh James?

  1. Mobil sedannya yang hancur karena ditabrak bus.
  2. Ongkos rawat nginap rumah sakit hingga 3 minggu.
  3. Obat-obatan yang diperlukan untuk memulihkan kesehatan James.
  4. Ongkos medical check-up setelah keluar dari rumah sakit.
  5. Kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan utamanya.

Yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa semua orang memiliki risiko mengalami musibah seperti cerita diatas. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mempelajari manajemen resiko. Apa yang Anda lakukan untuk mengantisipasi kejadian seperti diatas? Jawabannya ada 2, yaitu menyiapkan dana darurat atau mengalihkan resiko ke pihak lain.

Dana Darurat

Dana darurat adalah sejumlah uang yang sengaja Anda sisihkan untuk digunakan pada saat darurat. Biasanya dana ini disimpan dalam bentuk tabungan dengan rekening khusus yang tidak boleh ditarik jika bukan dalam keadaan darurat. Kelebihan dari dana darurat adalah bahwa dana ini adalah tabungan Anda. Uang dalam dana darurat akan tetap menjadi milik Anda jika tidak terjadi musibah. Dan uang ini bisa Anda gunakan untuk apa saja yang Anda mau.

Sementara kekurangan dari dana darurat adalah dibutuhkan kedisiplinan untuk secara berkala menyimpan uang ke rekening dana darurat. Dan kedisiplinan juga diperlukan agar dana darurat ini benar-benar disimpan, tidak ditarik untuk keperluan harian.

Namun, kekurangan terbesar dari dana darurat adalah terbatasnya jumlah uang yang bisa Anda tabung sebagai dana darurat. Dalam kasus seperti James diatas, dana darurat tidak akan cukup untuk mengganti seluruh kerugian finansial yang diderita oleh James. Dalam hal ini, Anda perlu mempertimbangkan cara manajemen resiko yang lain.

Mengalihkan Resiko ke Pihak Lain

Cara lain untuk mengantisipasi resiko adalah dengan cara mengalihkan resiko tersebut ke pihak lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membeli asuransi. Dalam perjanjian asuransi, Anda menyerahkan sejumlah uang yang disebut premi kepada pihak penanggung(perusahaan asuransi) dan pihak penanggung berjanji akan memberikan ganti rugi kepada Anda jika Anda mengalami musibah.

Kelebihan dari cara ini adalah Anda akan mendapatkan uang ganti rugi dalam jumlah besar apabila terjadi musibah. Dengan perencanaan asuransi yang baik, James tidak perlu mengeluarkan uang pribadi satu sen pun untuk menutupi seluruh kerugian finansial yang disebutkan diatas.

Kekurangannya adalah resiko yang ditanggung oleh asuransi terbatas pada perjanjian polis asuransi. Misalkan perjanjian asuransi hanya meng-cover kerugian akibat meninggal, maka pihak asuransi tidak akan memberikan ganti rugi untuk ongkos perawatan di rumah sakit. Selain itu, perjanjian asuransi juga memiliki batas waktu (biasanya hanya berlaku setahun). Jika dalam periode tersebut tidak terjadi apa-apa, maka uang premi yang telah Anda bayar akan hangus.

Ironis memang, disatu sisi Anda memerlukan ganti rugi dalam jumlah besar apabila Anda mengalami musibah. Namun disisi lain polis asuransi membutuhkan biaya yang besar. Oleh karena itulah Anda perlu menganalisa kebutuhan Anda sendiri. Anda perlu menetapkan sendiri resiko-resiko apa saja yang harus ditanggung oleh pihak asuransi, dan resiko mana saja yang bisa diatasi dengan dana darurat.

bahan tambahan makanan

Beberapa bahan tambahan makanan telah dibahas pada bagian produk hewani. Beberapa lagi yang diragukan kehalalannya (perlu diteliti lebih lanjut) dapat dilihat pada Tabel 3 (pada Tabel 3 terdapat pula daftar bahan tambahan makanan yang sudah dibahas sebelumnya dengan maksud untuk melengkapi informasi yang telah disampaikan). Keraguan akan kehalalan bahan-bahan tersebut berasal dari kemungkinan bahwa bahan tambahan tersebut berasal dari bahan hewani yang diharamkan atau minuman yang memabukkan. Nomor yang menyertai nama bahan tersebut adalah kode yang berlaku di negara Masyarakat Eropa, secara umum semua kode bahan tambahan makanan diawali dengan E, kemudian digit pertama menunjukkan kelompoknya, apakah pengawet, pengemulsi, antioksidan, dll. Dari daftar di bawah nanti terlihat banyak sekali pangan olahan yang perlu diwaspadai kehalalannya karena bahan tambahan makanannya yang masih perlu diteliti. Walaupun demikian, kembali perlu ditegaskan, tidak berarti pasti haram karena bahan-bahan pengganti yang halal juga sudah banyak dan pembuatannya tidak harus melalui jalan yang dijelaskan dalam tabel, karena masih mungkin ada berbagai alternatif seperti telah dibahas untuk kasus pengemulsi.

Ada satu jenis bahan tambahan makanan yang juga rawan kehalalannya (beberapa), sayangnya bahan ini banyak dipakai pada makanan olahan, bahan tambahan tersebut yaitu perisa (flavourings). Kekhawatiran ini disebabkan oleh karena beberapa hal, yaitu: 1) pelarut yang digunakan di antaranya etanol dan gliserol, 2) bahan dasar pembuatannya, 3) asal bahan dasar yang digunakan. Sebagai contoh, untuk menghasilkan flavor daging diperlukan base yang dibuat dari hasil reaksi asam amino atau protein hidrolisat, gula dan kadang-kadang lemak atau turunannya.

Selain itu, pada waktu formulasi untuk flavor ayam misalnya (sering digunakan untuk mie instan, sup ayam, kaldu ayam, produk chiki (ekstrusi), dll), seringkali diperlukan lemak ayam, sehingga perlu jelas dari mana asalnya. Contoh lain lagi, untuk flavor mentega diperlukan bukan hanya bahan-bahan kimia tunggal pembentuk aroma mentega, tetapi juga asam-asam lemak untuk membentuk rasa dan mouthfeel, tentu saja perlu jelas dari mana asam lemaknya. Itu hanya dua contoh saja, perlu disadari bahwa jenis flavor ini jumlahnya ratusan, terbuat dari ribuan senyawa kimia bahan dasar, di samping pelarut, pengemulsi, enkapsulan, penstabil, dan aditif lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mengaudit kehalalan bahan flavor ini, bukan pekerjaan mudah dan kembali memerlukan keahlian dan bekal pengetahuan yang tinggi di bidang ini, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.


Daftar Bahan tambahan makanan yang termasuk kelompok diragukan kehalalannya (syubhat)**

1. Potasium nitrat (E252)

Dapat dibuat dari limbah hewani atau sayuran. Untuk pengawet, kuring, mempertahankan warna daging. contoh pada Sosis, ham, Dutch Cheese

2a. L-(+)-asam tartarat (E334)

Kebanyakan sebagai hasil samping industri wine.Sebagai antioksidan pemberi rasa asam Produk susu beku, jelly, bakery, minuman, tepung telur, wine, dll.

2b. Turunan-turunan asam tartarat E335, E336, E337, E353 (dari E334)

Dapat berasal dari hasil samping industri wine antioksidan, buffer, pengemulsi, dll

3.Gliserol/gliserin (E422)

Hasil samping pembuatan sabun, lilin dan asam lemak dari minyak/lemak (dapat berasal dari lemak hewani) . Sebagai pelarut flavor, menjaga kelembaban (humektan), plasticizer pada pengemas Bahan coating untuk daging, keju, cake, desserts, dll

4.Asam lemak dan turunannya, E430, E431, E433, E434, E435, E436

Dapat berasal dari turunan hasil hidrolisis lemak hewani Pengemulsi, penstabil, E343:antibusa. Terdapat pada produk roti dan cake, donat, produk susu: es krim, desserts beku; minuman, dll

5.Pengemulsi yang dibuat dari gliserol dan/atau asam lemak (E470 - E495)

Dapat dibuat dari hasil hidrolisis lemak hewani untuk menghasilkan gliserol dan asam lemak sebagai pengemulsi, penstabil, pengental, pemodifikasi tekstur, pelapis, plasticizer, dll
Terdapat pada Snacks, margarin, desserts, coklat, cake, puding

6.Edible bone phosphate (E542)

Dibuat dari tulang hewan, Anti caking agent, suplemen mineral. Terdapat pada makanan suplemen

7.Asam stearat Dapat dibuat dari lemak hewani walaupun secara komersil dibuat secara sintetikAnticacking agent

8.L-sistein E920

Dapat dibuat dari bulu hewan/unggas dan di Cina dibuat dari bulu manusia Sebagai bahan pengembang adonan, bahan dasar pembuatan flavor daging. Untuk produksi tepung dan produk roti, bumbu dan perisa (flavor)

9.Wine vinegar dan malt vinegar Masing-masing dibuat dari wie dan bir .

Sebagai pemberi flavor bumbu-bumbu, saus, salad

**Sumber: Hansen dan Marsden, 1987. E for Additives. Thorsons, England.

Sebagai kesimpulan, kehalalan suatu produk pangan pada era global ini menjadi kompleks, memerlukan penanganan yang serius karena banyak kemungkinan yang dihadapi yang dapat sampai haramnya atau halalnya suatu produk pangan. Di samping itu, pekerjaan pemeriksaan kehalalan suatu produk pangan tidak bisa sembarangan, memerlukan ketelitian tinggi, memerlukan pengetahuan asal usul bahan dan proses pengolahan pangan itu sendiri, dan yang terpenting analisis laboratorium tidak dapat dijadikan andalan menentukan kehalalan suatu produk pangan. Mungkin bekal yang terpenting yang berkaitan dengan bahan ialah pengetahuan yang mendalam mengenai bahan itu sendiri. Di samping itu, diperlukan metode pemeriksaan yang tepat dan pembentukan sistem jaminan halal yang handal. Kedua hal terakhir itulah yang akan dibicarakan pada seri tulisan selanjutnya.

Oleh: DR. Anton Apriyantono

plasticizer in english

Plasticizers are additives that increase the plasticity or fluidity of the material to which they are added, these include plastics, cement, concrete, wallboard and clay bodies. Although the same compounds are often used for both plastics and concretes, the desired effect is slightly different.

Plasticizers for concrete soften the mix before it hardens, increasing its workability or reducing water, and are usually not intended to affect the properties of the final product after it hardens.

Plasticizers for wallboard increases fluidity of the mix, allowing lower use of water and thus reducing energy to dry the board.


The plasticizers for plastics soften the final product increasing its flexibility.

Plasticizers for concrete production

Superplasticizers or high range water reducers or dispersants are chemical admixtures that can be added to concrete mixtures to improve workability. Strength of concrete is inversely proportional to the amount of water added or water-cement (w/c) ratio. In order to produce stronger concrete, less water is added, which makes the concrete mixture very unworkable and difficult to mix, necessitating the use of plasticizers, water reducers, superplasticizers or dispersants.

Superplasticizers are also often used when pozzolanic ash is added to concrete to improve strength. This method of mix proportioning is especially popular when producing high strength concrete and fiber reinforced concrete.

Adding 1-2% superplasticizer per unit weight of cement is usually sufficient. However, note that most commercially available superplasticizers come dissolved in water, so the extra water added has to be accounted for in mix proportioning. Adding an excessive amount of superplasticizer will result in excessive segregation of concrete and is not advisable. Some studies also show that too much superplasticizer will result in a retarding effect.

Plasticizers are commonly manufactured from lignosulfonates, a by-product from the paper industry. High Range Superplasticizers have generally been manufactured from sulfonated naphthalene condensate or sulfonated melamine formaldehyde, although new generation products based on polycarboxylic ethers are now available. Traditional lignosulfonate based plasticisers, naphthalene and melamine sulfonate based superplasticisers disperse the flocculated cement particles through a mechanism of electrostatic repulsion (see colloid). In normal plasticisers, the active substances are adsorbed on to the cement particles, giving them a negative charge, which leads to repulsion between particles. Lignin, naphthalene and melamine sulfonate superplasticisers are organic polymers. The long molecules wrap themselves around the cement particles, giving them a highly negative charge so that they repel each other.

Polycarboxylate ethers (PCE) or just polycarboxylate (PC), the new generation of superplasticisers, are not only chemically different from the older sulfonated melamine and naphthalene based products but their action mechanism is also different, giving cement dispersion by steric stabilisation, instead of electrostatic repulsion. This form of dispersion is more powerful in its effect and gives improved workability retention to the cementitious mix. Furthermore, the chemical structure of PCE allows for a greater degree of chemical modification than the older generation products, offering a range of performance that can be tailored to meet specific needs.

In ancient times, the Romans used blood as a superplasticizer for their concrete mixes.

Plasticisers can be obtained from a local concrete manufacturer.

Household washing up liquid may also be used as a simple plasticizer.

Plasticizers for gypsum wallboard production

Superplasticizers or dispersants, are chemical additives that can be added to wallboard mixtures to improve workability. In order to reduce the energy in drying wallboard, less water is added, which makes the gypsum mixture very unworkable and difficult to mix, necessitating the use of plasticizers, water reducers or dispersants.

Adding about two pounds per thousand square feet of 1/2 inch wallboard (15 g/m² of wallboard) of dispersant is usually sufficient. Some studies also show that too much of lignosulfonate dispersant could result in a set-retarding effect. Data showed that amorphous crystal formations occurred that detracted from the mechanical needle-like crystal interaction in the core, preventing a stronger core. The sugars, chelating agents in lignosulfonates such as aldonic acids and extractive compounds are mainly responsible for set retardation.

Low range water reducing dispersants are commonly manufactured from lignosulfonates, a by-product from the paper industry. High range superplasticizers (dispersants} have generally been manufactured from sulfonated naphthalene condensate, although new generation products based on polycarboxylic ethers are now available. Traditional lignosulfonate and naphthalene sulfonate based superplasticisers disperse the flocculated gypsum particles through a mechanism of electrostatic repulsion (see colloid). In normal plasticisers, the active substances are adsorbed on to the gypsum particles, giving them a negative charge, which leads to repulsion between particles. Lignin and naphthalene sulfonate plasticizers are organic polymers. The long molecules wrap themselves around the gypsum particles, giving them a highly negative charge so that they repel each other.

Plasticizers for plastics

Plasticizers for plastics are additive, most commonly phthalates, that give hard plastics like PVC the desired flexibility and durability. They are often based on esters of polycarboxylic acids with linear or branched aliphatic alcohols of moderate chain length. Plasticizers work by embedding themselves between the chains of polymers, spacing them apart (increasing of the "free volume"), and thus significantly lowering the glass transition temperature for the plastic and making it softer. For plastics such as PVC, the more plasticiser added, the lower its cold flex temperature will be. This means that it will be more flexible, though its strength and hardness will decrease as a result of it. Some plasticizers evaporate and tend to concentrate in an enclosed space; the "new car smell" is caused mostly by plasticizers evaporating from the car interior.

Dicarboxylic/tricarboxylic ester-based plasticizers

Other plasticisers

  • Polymeric plasticizers

Some other chemicals working as plasticizers are nitrobenzene, carbon disulfide and β-naphthyl salicylate. Plasticizers, such as DEHP and DOA, were found to be carcinogens and endocrine disruptors.

Safer plasticizers

Safer plasticizers with better biodegradability and less biochemical effects are being developed. Some such plasticizers are:

Plasticizers for energetic materials

Energetic material compositions, especially solid rocket propellants and smokeless powders for guns, often employ plasticizers to improve physical properties of the propellant binder or of the overall propellant, to provide a secondary fuel, and ideally, to improve specific energy yield (e.g. specific impulse, energy yield per gram or propellant, or similar indices) of the propellant. An energetic plasticizer improves the physical properties of an energetic material while also increasing its specific energy yield. Energetic plasticizers are usually preferred to non-energetic plasticizers, especially for solid rocket propellants. Energetic plasticizers reduce the required mass of propellant, enabling a rocket vehicle to carry more payload or reach higher velocities than would otherwise be the case. However, safety or cost considerations may demand that non-energetic plasticizers be used, even in rocket propellants. The solid rocket propellant used to fuel the Space Shuttle solid rocket booster employs a non-energetic plasticizer/binder/secondary fuel: HTPB. HTPB is a synthetic rubber. Here are some energetic plasticizers used in rocket propellants and smokeless powders:

Due to the secondary alcohol groups, NG and BTTN have relatively low thermal stability. TMETN, DEGDN, BDNPF and BDNPA have relatively low energies. NG and DEGN have relatively high vapor pressure.

PLASTICIZER ( Turunan Sawit )

niy buat kamu yang lagi nyari tentang plasticizer...
Plasticizer adalah senyawa adiktif yang ditambahkan kepada polimer untuk menambah fleksibilitas dan workability-nya. Plasticizer diaplikasikan terutama pada vinil resin seperti Polovinil Klorid (PVC). Di antara 300 jenis plasticizer yang telah dikembangkan adalah DOP( Dioctyl Phthalate ) yang paling banyak digunakan. Konsumsi DOP pada industri PVC mencapai 50 - 70 % dari toal produksi plasticizer.Namun demikian, pemakaian DOP sebagai plasticizer PVC, terutama yang diaplikasina pada food-drug packaging atau mainan anak - anak mulai dipermasalahkan. Ini dikarenakan adanya migrasi senyawa aromatic tersebut dari PVC dalam jumlah yang besar dan dapat menyebabkan timbulnya sel kanker. Bahan plasticizer pengganti DOP dari turunan minyak sawit yang ramah linkungan.
Proses Pembuatan
Proses pembuatan plasticizer dilakukan dengan proses Esterifikasi Fisher pada kondisi tertentu dengan menggunakan bahan baku antara lain :komponen minyak sawit, katalisdan senyawa alkohol.Hasil Yang Diperoleh Kemudian dicuci dan dipisahkan antara produk dan sisa asam dan katalis yang terbentuk selama proses hingga pH normal.

Happy B'day mom...

Happy b'day mom...hari ini ibu ku genap berusisa 44tahun.dah kelihatan tua ach..tapi penampilannya masih saja seperti anak muda..fuuhhh..usia yang sangat matang untuk seorang wanita yang sangat sangat menyayangi keluarganya..hari ini..rencananya tadi agi ibu mau ngumpul bareg ma teman2 SDnya alia reunian setelah puluhan tahun tak jumpa..pagi2 sekali ibu pergi kepasar membeli semua keperlua yang dibutuhkan untuk acara nanti sore..semua berjalan kancar hingg pukul 12 informasi terakkhir acara dirumah dicanel di pindahkan di MP(ma Panakukang)tepatnya di rumah makan D'Cost, pukul 18 waktu berbuka puasapun tiba satu persatu teman2 SDnya ibu datang dan bercerita layaknya anak2 sekolah (dan sekaragdah jadi nene2 gaul)hehehehe...di hari ini juga sangat istimewa buatku hari ini jihad ada disampingku, juga dini yang masih setia menemani si kacang goreng...ada wahyu mami,fitri,nurul dan juga ayah..semua berjalan sesuai dengan rencana dan semuanya sangat gembira hari ini,.dini dapat pelukan hangat dai ibu dan jihad dapat ciuman manis dari ibu dan juga mammi..pukul 20 semuanya bubar satu oersatu teman SDnya ibu pamitan dan kami pun pulang...ibu di beri hadiah bros oleh jihad,.ibu terliha sangat senang dengan hadiah tersebut maklum dari semua orang yang datang diacanya hanya jihad yang ngasih kado..emm..makaC mom..buat hari ini semuanya bahagia dan semuanya selalu medokan semuaga panjang umur dan sehat selalu..mom we love yuo..bdw hasil sementara PSM payah kalah 1-3 dari tamunya persela...ini sdai yang bikin kegembiraan hari ini sedikit terbelenggu..payah....
Nb:mom traktiranya tambah lagi donk...

Minggu, 14 September 2008

PSM VS PERSIJA

PSM konta persija yang dilaksanakan d stadion A.Matalatta(Mattoangin dulunya)..menyuuhkan pertandingan panas yang sangat panas sampai-sampai keringatan..huuff...rencana nonton langsung di stadion dengan modal 15rb ditemani anak2 magang SMK 2 Pinrang(subur,asri,sapri),.mlam ini betul2 malam yang panjang dan melelahkan.bukan main penontong yang datang langsung ke stadion kira2 15rbuan orang (sama dengan harga karcisnya)...
pintu stadion dibuka pukul 21 dan orang dah pada antri masuk ke stadion sambil desak desakan..parahnya lagi semua orag ingin cepat masuk untuk menda[atan t4 yang strategis..dengan perjuang yang sangat dan basah(karna keringat),akhirnya kami bisa msuk juga, namu yang ada bukannya bis nonton dengan tenang malah harus beridiri dekat pagar,dibelaknaag orang yang tinggi dan terjepit..payah..dah...
babak pertama berlangsung seru gol dari pronetto membuat keunggulan buat PSM namun dari tribun terbuka kami berempat hanya bisa jinjit,sesekali melompat untuk melihat jalannya pertandginag babak pertama..payah...
di babak kedua saat orang istirahat kami pun berpencar untuk mendapatkan posisi yang baik untuk melihat aksi jagon kami (Pemain PSM Maksudnya)..,namun sebelum itu aku mencoba mencari makanan di sekitar tribun terbuka untuk mengisi tenaga yang hilang akibat berlompat2 dan berjinjit ria selama baba pertama,dan ternyata aku mendapat penjual songkollo dan jalangkote yang harganya masih bisa tersentuh olehkudi babak pertama,yach lumayanlah untuk menggantikan tenaga yang habis(mangnya main juga ya bang..hehehe) ..akhirnya aku mendapat tempat dibarisan ketiga dari MAczMAn(supoter PSM)..ya ga terlalu jelas C tapi luamyanlha bisa melihat dari sini..babak kedua pun berlangsung seru dan hasil akhirnya 2-1 untuk PSM..bravo PSM
pertandingan berakhir pulu 00:10..kami pun pulang dengan sedikit kekecewaan "untung PSM menang kalo tidak rugi Q datang" kata asri..aku pun hanya bisa mengangguk lemas,,pengalaman pertama yang sangat menengangkan...

NB:kalo mau kestadion datang dua jam sebelum pertandingan biar dpat t4,dan jangan lupa bawa makan dan minuman buat isi tenaga...