Banteng....kota itu mengigatkan aku akan sebuah kenangan bersama sahabat2 yang sampai saat ini aku menganggap mereka suadaraku,..Banteang,..ketika khyaalku ku lemparkan kebelakangkan kulihat kembali kenangan itu....
pagi itu terasa sejuk sekali butaku,matahari bersinar dengan gagahnya menerangi kami(cozpat tm)namun saa itu aku terserang demam yang sangat membuat ku hampir tidak bisa mengikuti perjalan pertama kami ini, saat itu kami berangkat dengan personil pria aan,kico(kiki cowo'),maman,juanda,iping,v-cal,sahruni,a.Fachri, dan tentunya tuan tumah ikmal dan personil wanita jihad,mariani MHM, Loa(dibaca OLA)ti2n,imma,fatima,aida,vita dan fina,a'dah...hari pertama kami disana sangat menyenangkan makan malam, alunan gitar dari kicok, canda tawa dari iping dan juanda (hampir dikira homo)hehehehe...dan ma2n yang suka boker2....hari kedua kami lewati dengan berangkat ke daerah agrowisata LOKA tempat yang dingin dan tempat yang sangat sejuk kami pun berjalan sampai ke menara TVRI di puncak gunung,..hari itu adalah hari dimana v-cal melancarkan serangannya,serangan dadakan alias katakan cinta pada josephita namun pernyataan v-cal itu ditolak secara sedikit mentah oleh vita,.(sebenarnya mereka cocok:))..hari yang kurang menguntungkan buat v-cal..hari kedua kami habiskan dirumahnya vita dan malamnya kami jalan2 kepantai,.hari ketiga kami habiskan bersama2 dirumahnya fina kami semua bercanda dan tertawa bersama dan berangkat ke ERMES mandi dan foto2 dah kayak artis aja..malam terkahir kami habiskan dengan bakr2 ikan di ruhnya fina....emmm...
perjalanan ini adalah perjalanan pertama cozpat seumur hidupnya cozpat...teringat kembali akan sebuah kejayaan dan sebuah kebersamaan kita disaat kita tertawa dan disaaat kita bercanda....
Jumat, 28 November 2008
journey of Bantaeng
Diposting oleh AnTeKpErT di 08.58 0 komentar
Senin, 03 November 2008
coklat lagi....
A. Sejarah Cokelat ( Theobroma cacao L )
Cokelat atau kakao merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon yang dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, namun baru menjadi komoditi yang penting sejak tahun 1951. Pemerintah Indonesia mulai menaruh perhatian dan mendukung industri kakao pada tahun 1975, setelah PTP VI berhasil menaikan produksi kakao per hektar melalui penggunaan bibit unggul Upper Amazon Interclonal Hybrid, yang merupakan hasil persilangan antar klon dan sabah. Tanaman tropis tahunan ini berasal dari Amerika Selatan. Penduduk Maya dan Aztec di Amerika Selatan dipercaya sebagai perintis pengguna kakao dalam makanan dan minuman. Sampai pertengahan abad ke XVI, selain bangsa di Amerika Selatan, hanya bangsa Spanyol yang mengenal tanaman kakao. Dari Amerika Selatan tanaman ini menyebar ke Amerika Utara, Afrika dan Asia
Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts AS. Pada tahun 2000, konsumsi produk coklat dunia diperkirakan mencapoai 5 juta ton.
Di Indonesia, cokelat pertama kali diperkenalkan dalam bentuk minuman hangat di Batavia (Jakarta) pada awal abad ke-18. Pada tahun 1780-1790 sudah ada panen cokelat di Batavia, namun hasilnya tidak signifikan. Kemudian pada tahun 1822,mulai ada di Manado, lalu tahun 1830 sudah tumbuh di Ambon Halmahera, dan pada tahun 1880 cokelat dikembangkan oleh perusahaan swasta di Pulau Bacan.
Pada tahun 1960, jumlah produksi biji cokelat di Indonesia masih sangat sedikit yaitu hanya 2.000 ton/tahun. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh rendahnya minat petani Indonesia untuk bertanam cokelat. Minat itu mulai tumbuh pada sekitar tahun 1970. Dan akhir tahun 1980, produksi cokelat Indonesia mulai meningkat dan sebagian besar berasal dari perkebungan cokelat di Jawa Timur, Sumatera Utara, dan kawasan Indonesia bagian timur. Sekitar tahun 1988, jumlah produksi cokelat Indonesia sudah mencapai 60 ribu ton per tahun.
Pada saat ini, menurut data statistik, negara yang paling banyak mengkonsumsi cokelat adalah negara Swiss, dimana rata-rata warga negaranya mengkonsumsi 11 kg cokelat setiap tahunnya. Satu hal yang jarang diketahui orang, bahwa selain gula, lebih banyak lagi nutrisi yang terkandung dalam cokelat yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti antioxidants, flavonoids, protein, kalsium, fosfor dan lainnya. Riset membuktikan bahwa konsumsi antioxidants dapat mengurangi resiko penyakit jantung dan kanker. Antioxidants dalam 1.4 ons cokelat, setara dengan kandungan antioxidants dalam segelas wine atau 2 gelas black tea.
B. Jenis Tanaman Cokelat ( Theobroma cocoa L )
Klasifikasi botani tanaman kakao adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Sterculiaceae
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao L.
Jenis kakao yang terbanyak dibudidayakan adalah jenis:
a. Criollo (Criollo Amerika Tengah dan Amerika Selatan) yang menghasilkan biji kakao bermutu sangat baik dan dikenal sebagai kakao mulia, fine flavour cocoa, choiced cocoa atau edel cocoa.
b. Forastero yang menghasilkan biji kakao bermutu sedang dan dikenal sebagai ordinary cocoa atau bulk cocoa.
c. Trinitario yang merupakan hibrida alami dari Criollo dan Forastero sehingga menghasilkan biji kakao yang dapat termasuk fine flavour cocoa atau bulk cocoa. Jenis Trinitario yang banyak ditanam di Indonesia adalah Hibrid Djati Runggo (DR) dan Uppertimazone Hybrida (Kakao lindak).
C. Pasca Panen Cokelat (Theobroma cacao L )
Pengumpulan
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu dan dikelompokkan menurut kelas kematangan. Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang keras.
Penyortiran/pengelompokkan
Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya:
a) Mutu A: dalam 100 gram biji terdapat 90-100 butir biji
b) Mutu B: dalam 100 gram biji terdapat 100-110 butir biji
c) Mutu C: dalam 100 gram biji terdapat 110-120 butir biji.
Penyimpanan
Biji kakao basah diperam (difermentasi) selama 6 hari di dalam kotak kayu tebal yang dilapisi aluminium dan bagian bawahnya diberi lubang-lubang kecil dengan cara sebagai berikut:
a) Tumpukkan biji di dalam kotak dengan tinggi tumpukan tidak lebih dari 75.
b) Tutup dengan karung goni atau daun pisang.
c) Aduk-aduk biji secara periodik (1 x 24 jam) agar suhu naik sampai 50 derajat C
Pengemasan dan Pengangkutan
Biji-biji cokelat yang sudah kering dapat dimasukan dalam karung goni. Tiap goni diisi 60 kilogram biji cokelat kering. kemudian karung-karung yang berisi biji cokelat kering tersebut disimpan dalam gudang yang bersih, kering dan berfentilasi yang baik. Sebaiknya biji cokelat tersebut sudah segera bisa dijual dan diangkut dengan menggunakan truk dan sebagainya. Penyimpanan di gudang, sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap tiga bulan harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang biji cokelat.
D. Pengolahan Cokelat (Theobroma cacao L )
Salah satu tahapan penting dalam penanganan pengolahan kakao adalah proses fermentasi. Penanganan pascapanen kakao dimulai sejak pemetikan buah, fermentasi sampai pengeringan dan pengemasan. Proses fermentasi berlangsung secara alamiah selama beberapa hari. Tahapan ini sangat penting dilalui untuk mempersiapkan biji kakao basah menjadi biji kakao kering bermutu finggi dan layak dikonsumsi.
Fermentasi biji kakao akan menumbuhkan citarasa, aroma dan warna, karena selama fermentasi terjadi perubahan fisik, kimiawi dan biologi di dalam biji kakao. Di dalam biji kakao akan terjadi penguraian senyawn polifenol, protein den gula o!eh enzim. Penguraian senyawa-senyawa tersebut akan menghasilkan talon aroma, perbbikan rash dan perubahan warna.
Faktor yang berpengaruh terhndap keberhasilan fermentasi adalah wadah fermentasi, waktu, aerasi, pembalikan, aktivitas mikroba dan penguraian kandungan pulp. Penguraian knndungnn pulp ditentukan dengan lamanya pemeraman buah kakao setelah dipetik.
Fermentor (Wadah Fermentasi)
Wadah fermentasi yang baik digunakan yang terbuat dari papan kayu berbentuk kotak dilengkapi dengan lubang-lubang yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran cairan dan aerasi. Jarak lubang biasanya 10-15 cm dengan diameter 1 cm. Ukuran kotak fermentasi berpengaruh pada peningkatan suhu dan dibuat sesuai dengan jumlah/volume kakao yang akan difermentasi (40, 200 atau 600 kg) dengan ketinggian tumpukan, tidak melebihi 42 cm.
Waktu Fermentasi
Waktu fermentasi bervariasi sesuai dengan jenis kakao yang difermentasi. Waktu fermentasi yang dianjurkan untuk kakao Lindak adalah 5 hari.
Pembalikan
Untuk mendapatkan hasil kakao fermentasi yang baik, dilakukan pembalikan biji kakao setelah 48 jam (2 hari) fermentasi. Pembalikan hanya dilakukan satu kali untuk menjaga suhu fermentnsi
Pemeraman Buah
Pemeraman buah bertujuan untuk membantu pembentukan citarasa dan aroma kakao. Disamping itu juga mempermudah proses fermentasi karena pemeraman akan menyebabkan pulp lebih mudah terlepas dari biji kakao. Waktu pemeraman berkisar antara 6 - 9 hari.
METODA
Prafermentasi
Pemetikan buah kakao dilakukan dengan menggunakan pisau, untuk buah yang tinggi menggunakan bambu panjang yang diujungnya diberi pisau. Buah kakao yang baru dipetik disimpan di tempat terbuka selama 6 - 9 hari (pemeraman). Pemecahan buah dilakukan dengan menggunakan kayu bulat, dihindari menggunakan pisau/parang untuk mencegah biji berwarna hitam.
Fermentasi
Biji kakao dimasukkan ke dalam kotak fermentasi dan ditutup dengan menggunakan plastik atau karung goni. Fermentasi dilakukan selama 5 hari dengan pembalikan 1 kali setelah 48 jam fermentasi. Akhir waktu fermentasi ditandai dengan 1), biji berwarna coklat dan agak kering serta aroma cuka yang menonjol, 2). Iapisan lendir di permukaan biji mudah terkelupas dan 3). Penampang bi ji nampak berongga, berwarna coklat dan warna ungu sudah hilang.
Perendaman dan Pencucian
Perendaman dan pencucian tidak mutlak dilakukan tergantung permintaan dari eksportir. Biji kakao yang sudah difermentasi direndam selama 2 - 3 jam dan dicuci secara hati-hati (ringan). Pencucian bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi, mempercepat proses pengeringan dan memperbaiki kenampakan biji.
Pengeringan
Setelah dicuci, biji ditiriskan dan dikeringkan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dengan bantuan matahari atau menggunakan alat pengering (mekanis). Pengeringan bertujuan untuk mengunakan air yang tertinggal di dalam bi ji pasca fermentasi dan mendapatkan kakao dengan kadar air 6 - 7% (SNI 2003). Pengeringan dengan bantuan matahari menggunakan lantai jemur atau terpal dengan ketebalan lapisan biji 3 - 5 cm, hindari kontak dengan tanah
. Pembalikan dilakukan 1-2 jam, waktu pengeringan tergantung cuaca sekitar 7 - 14 hnri. Sedangkan pengeringan dengan alat pengering tergantung kapasitas alat dan bahan bakar yang digunakan..
E. Standar Mutu Cokelat
1. Karakteristik Fisik
Beberapa karakteris phisik biji kakao yang masuk dalam standar mutu meliputi,
1.1. Kadar air
Kadar air merupakan sifat phisik yang sangat penting dan sangat diperhatikan oleh pembeli. Selain sangat berpengaruh terhadap randemen hasil (yield), kadar air berpengaruh pada daya tahan biji kakao terhadap kerusakan terutama saat penggudangan dan pengangkutan. Biji kakao, yang mempunyai kadar air tinggi, sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga. Keduanya sangat tidak disukai oleh konsumen karena cenderung menimbulkan kerusakan cita-rasa dan aroma dasar yang tidak dapat diperbaiki pada proses berikutnya. Standar kadar air biji kakao mutu ekspor adalah 6 - 7 %. Jika lebih tinggi dari nilai tersebut, biji kakao tidak aman disimpan dalam waktu lama, sedang jika kadar air terlalu rendah biji kakao cenderung menjadi rapuh.
1.2. Ukuran biji
Seperti halnya kadar air, ukuran biji kakao sangat menentukan randemen hasil lemak. Makin besar ukuran biji kakao, makin tinggi randemen lemak dari dalam biji. Ukuran biji kakao dinyatakan dalam jumlah biji (beans account) per 100 g contoh uji yang diambil secara acak pada kadar air 6 - 7 %. Ukuran biji rata-rata yang masuk kualitas eskpor adalah antara 1,0 - 1,2 gram atau setara dengan 85 - 100 biji per 100 g contoh uji. Ukuran biji kakao kering sangat dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman, kondisi kebun (curah hujan) selama perkembangan buah, perlakuan agronomis dan cara pengolahan Tabel 5 menunjukkan klasifikasi mutu biji kakao atas dasar ukuran biji per 100 g contoh uji.
1.3. Kadar kulit
Biji kakao terdiri atas keping biji (nib) yang dilindungi oleh kulit (shell). Kadar kulit dihitung atas dasar perbandingan berat kulit dan berat total biji kakao (kulit + keping) pada kadar air 6 - 7 %. Standar kadar kulit biji kakao yang umum adalah antara 11 - 13 %. Namun, nilai kadar kulit umumnya tergantung pada permintaan konsumen. Beberapa konsumen bersedia membeli biji kakao dengan kadar kulit di atas nilai tersebut. Mereka akan memperhitungkan koreksi harga jika kadar kulit lebih tinggi dari ketentuan karena seperti halnya ukuran biji, kadar kulit berpengaruh pada randemen hasil lemak.
Biji kakao dengan kadar kulit yang tinggi cenderung lebih kuat atau tidak rapuh saat ditumpuk di dalam gudang sehingga biji tersebut dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, jika kadar kulit terlalu rendah, maka penjual (eksportir) biji kakao akan mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan bobot . Jika kuantum pengiriman sangat besar, maka kehilangan kumulati dari selisih kadar kulit menjadi relatif besar. Kadar kulit biji kakao dipengaruhi oleh jenis bahan tanaman dan cara pengolahan (fermentasi dan pencucian). Makin singkat waktu fermentasi, kadar kulit biji kakao makin tinggi karena sebagian besar sisa lendir (pulp) masih menempel pada biji. Namun demikian, kandungan kulit biji tersebut dapat dikurangi dengan proses pencucian.
Diposting oleh AnTeKpErT di 13.34 0 komentar
Sabtu, 18 Oktober 2008
AW dan RH
aw adalah water activity, yaitu ukuran yang menyatakan energi suatu cairan.
Rumusnya adalah: aw = p/p0, di mana p adalah tekanan uap cairan itu, dan p0 adalah tekanan uap air murni pada suhu yang sama.
kalo relative humidity adalah kelembaban relatif yang merupakan persentase jumlah/kandungan uap air dalam satu volume tertentu terhadap total uap air pada saat jenuh. Kelembaban relatif dapat diukur dari tabel psycometri atau bisa juga dari persamaan berikut:
RH = ea/es X 100 %, dimana ea adalah tekanan uap aktual atau jumlah uap air dalam suatu ruangan pada kondisi sebenernya dan es adalah tekanan uap jenuh atau jumlah uap air dalam ruangan ketika akan mulai mengembun. satuan RH adalah persen, es sendiri nilainya dapat diturunkan dari persamaan Claysius-Clapeyron atau dilihat dari tabel.
Diposting oleh AnTeKpErT di 20.01 0 komentar
Prinsip Pengeringan (Dehidrasi) Pangan
Mikroorganisme membutuhkan air untuk pertumbuhan
dan perkembangbiakannya. Jika kadar air pangan dikurangi, pertumbuhan
mikroorganisme akan diperlambat.
Dehidrasi akan menurunkan tingkat aktivitas air (water activity
( aw) yaitu jumlah air yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakannya), berat dan volume pangan.
Prinsip utama dari dehidrasi adalah penurunan
kadar air untuk mencegah aktivitas mikroorganisme. Pada banyak produk, seperti sayuran, terlebih
dahulu dilakukan proses pengecilan ukuran (misalnya diiris) sebelum
dikeringkan. Pengecilan ukuran akan meningkatkan luas permukaan bahan sehingga
akan mempercepat proses pengeluaran air.
Sebelum dikeringkan, bahan pangan sebaiknya diblansir untuk
menginaktifkan enzim yang dapat menyebabkan perubahan warna pangan menjadi
coklat.
Pengeringan dengan cara penjemuran dibawah sinar
matahari merupakan suatu metode pengeringan tertua. Proses penguapan air berjalan lambat,
sehingga pengeringan dengan cara penjemuran hanya dilakukan didaerah yang
iklimnya panas dan kering. Bahan yang
dijemur mudah terkontaminasi melalui polusi dan binatang seperti tikus dan
lalat.
Metode pengeringan lainnya telah dikembangkan oleh
industri pangan, dan biasanya cocok untuk digunakan pada produk pangan
tertentu. Contohnya adalah pengeringan
semprot dan pengeringan dengan menggunakan pengering model terowongan.
Pengeringan semprot (spray drying) cocok digunakan
untuk pengeringan bahan pangan cair seperti susu dan kopi (dikeringkan dalam
bentuk larutan ekstrak kopi). Cairan
yang akan dikeringkan dilewatkan pada suatu nozzle (semacam saringan
bertekanan) sehingga keluar dalam bentuk butiran (droplet) cairan yang sangat
halus. Butiran ini selanjutnya
masuk kedalam ruang pengering yang dilewati oleh aliran udara panas. Evaporasi air akan berlangsung dalam hitungan
detik, meninggalkan bagian padatan produk dalam bentuk tepung.
Pada pengeringan
menggunakan pengering model terowongan (tunnel drying), udara panas dihembuskan
melewati produk didalam ruang pengering yang berbentuk terowongan. Contoh produk yang dikeringkan dengan cara
ini adalah potongan sayuran kering.
Diposting oleh AnTeKpErT di 20.00 0 komentar
Pertumbuhan mikroba dalam bahan pangan erat
kaitannya dengan jumlah air yang tersedia untuk pertumbuhan mikroba
didalamnya. Jumlah air didalam bahan yang tersedia untuk pertumbuhan
mikroba dikenal dengan istilah aktivitas air (water activity = aw). Jika
kandungan air bahan diturunkan, maka pertumbuhan mikroba akan diperlambat.
Pertumbuhan bakteri patogen terutama
Staphylococcus aureus dan Clostridium botulinum dapat dihambat jika aw bahan
pangan < 0.8 sementara produksi toksinnya dihambat jika aw bahan pangan
kurang dari < 0.85. Sehingga, produk kering yang memiliki aw <
0.85, dapat disimpan pada suhu ruang. Tapi, jika aw produk >0.85
maka produk harus disimpan dalam refrigerator untuk mencegah produksi toksin
penyebab keracunan pangan yang berasal dari bakteri patogen.
Perlu diperhatikan bahwa nilai aw < 0.8
ditujukan pada keamanan produk dengan menghambat produksi toksin dari mikroba
patogen. Pada kondisi ini, mikroba pembusuk masih bisa tumbuh dan menyebabkan
kerusakan pangan. Bakteri dan kamir butuh kadar air yang lebih tinggi
daripada kapang. Sebagian besar bakteri terhambat pertumbuhannya pada aw
< 0.9; kamir pada aw < 0.8 dan kapang pada aw < 0.7. Beberapa
jenis kapang dapat tumbuh pada aw sekitar 0.62. Karena itu, kapang sering
dijumpai mengkontaminasi makanan kering seperti ikan kering dan asin yang tidak
dikemas. Penghambatan mikroba secara total akan terjadi pada aw bahan pangan
< 0.6.
Diposting oleh AnTeKpErT di 19.57 0 komentar
reneable energy
In the popular movie, Forrest Gump, the title character tells everyone he meets, “Life is like a box of chocolates; you never know what you’re going to get.”
What researchers got when they tried an experiment with chocolate and bacteria was a sweet new source of clean, renewable energy, according to a report in the journal Biochemical Society Transactions.
Bacteria Produce Hydrogen from Chocolate Waste
Microbiologist Lynne Mackaskie and her team of researchers at the University of Birmingham in the UK found a way to produce hydrogen by feeding waste products from a chocolate factory to Escherichia coli bacteria.
The researchers fed the bacteria (better known as E. coli bacteria) diluted caramel and nougat waste left over from the chocolate-making process. The experiment created conditions that caused the bacteria to ferment the sugars in the chocolate waste, which generated organic acids so toxic to the bacteria that they began converting formic acid to hydrogen like mad.
The researchers used the hydrogen to power a fuel cell, which generated enough electricity to run a small fan. Hydrogen is one of the cleanest renewable fuels around. When it is used to power fuel cells, for example, the only byproduct is water.
A Breakthrough for Renewable Energy
The discovery of a way to extract hydrogen from food waste could be a real breakthrough for both industry and the environment, because the process isn’t restricted to chocolate waste. It works equally well on many other types of waste.
The ability to convert food waste into clean renewable energy instead of garbage has the potential to transform the food industry. Using this process, food factories could conceivably use their own waste products to power their manufacturing operations, or to fuel a fleet of hydrogen-powered vehicles.
“Hydrogen offers huge potential as a carbon-free energy carrier,” Mackaskie said in a university press release. “Although only at its initial stages, we’ve demonstrated a hydrogen-producing, waste-reducing technology that, for example, might be scaled-up in 5-10 years’ time for industrial electricity generation and waste treatment processes.”
Value of New Renewable Energy Source Widespread
Mackaskie and her researchers found that E. coli bacteria also have other industrial uses. For example, when bacteria were added to a production line that recovers the precious metal palladium from the catalytic converters of old cars, the results were remarkable.
Bacteria were added to a vat filled with hydrogen and liquid waste from old converters. Essentially, the bacteria produced hydrogenase, which split the hydrogen into electrons that bonded with palladium trapped in the converter waste, and then stuck to the bacteria. Once the bacteria were coated with palladium, they could be recycled as catalysts for other industrial processes.
So the next time you decide to sneak a candy bar or indulge in a rich chocolate dessert, forgive yourself the extra calories. With every bite, you may be helping to save the planet.
Renewable Energy & Alternative Fuels
Sweden Aims to be First Oil-free NationBiofuels: The Pros and Cons of BiofuelsTurning Pet Feces Into Power
Diposting oleh AnTeKpErT di 00.45 0 komentar
Mengubah Limbah Menjadi Energi Bersih
Limbah adalah masalah lingkungan hidup utama bagi semua negara. Bila ada lebih banyak orang di seluruh dunia menjalankan prinsip Mengurangi, Menggunakan Kembali, dan Mendaur Ulang sebagai bagian dari gaya hidup mereka, maka jumlah limbah yang dihasilkan akan jauh berkurang. Lebih baik lagi bila kita dapat mengubah limbah menjadi energi yang bersih dan menggunakannya kembali. Hal ini tidak saja mengurangi masalah TPA, juga akan mengurang emisi gas rumah hijau.
Berbagai proyek pengembangan ramah lingkungan dimulai di seluruah dunia dan memberikan gambaran yang jelas bahwa pengembangan yang mendukung lingkungan hidup dan mencegah perubahan iklim merupakan tujuan yang dapat dicapai.
Pabrik Bio-Metanisasi Pertama di Singapura
Pada Tahun Emas 2 (Tahun 2005), sebuah pabrik pengolahan limbah organik dibangun di Singapura oleh perusahaan limbah IUT. Pabrik ini dibuat untuk mengubah sampah makanan dan sampah organik dari hotel, dapur, dan pabrik makanan menjadi energi bersih dan kompos. Dengan menggunakan proses bio-metanisasi, maka bakteri akan menguraikan sampah makanan menjadi kompos serta gas metan. Gas ini ditampung dan digunakan untuk menjadi bahan bakar mesin besar bertenaga gas untuk menghasilkan listrik. Ini adalah yang pertama di Singapura dan terbesar di Asia. Pabrik ini memiliki kapasitas 800 ton sampah organik setiap harinya dan menghasilkan listrik yang cukup untuk menjalankan operasi pabrik ini serta lebih dari 10.000 fasilitas industri lainnya.
Banyak negara lain yang juga memiliki pengembangan yang sama, atau membantu petani serta industri pabrik untuk memiliki fasilitas mengubah sampah di pabrik mereka sendiri sehingga energi yang dihasilkan menjadi lebih murah dan tersedia dengan cepat.
Referensi: http://www.iutglobal.com/iut-tech-bio-methanisation.asp
Generator Ringan yang Mengubah Sampah Menjadi Listrik
Professor Nathan Mosier of the Purdue University works with the tactical biorefinery designed to convert waste into electricity
Peneliti dari Universitas Purdue telah menciptakan kilang bahan bakar bio ringan, sebesar sebuah kendaraan van, yang mengubah makanan, kertas, dan sampah plastik menjadi listrik.
Kilang bahan bakar bio ini memproses limbah yang beraneka ragam pada saat yang sama. Sampah makanan difermentasikan menjadi etanol dengan menggunakan ragi industri serta mengubah plastik, kertas, maupun residu sampah lainnya menjadi metana dan propane kualitas rendah yang menggunakan unit gas. Gas dan etanol kemudian disalurkan ke pembakaran mesin disel yang menjadi sumber tenaga generator untuk menghasilkan listrik. Sistem ini sangat efisien dan dapat menghasilkan 90% energi lebih banyak dari yang dibutuhkan sistem ini sendiri, dengan sisa pembakaran abu yang tidak berbahaya.
Walaupun dikembangkan untuk digunakan oleh militer, penciptanya berharap agar dapat digunakan oleh masyarakat sipil, seperti di daerah pemulihan bencana atau sebagai sistem pembangkit tenaga tambahan.
Referensi: http://www.technologyreview.com/Energy/18183/
Mengubah Biomass dan Sampah Makanan Menjadi Energi yang Bisa Dipergunakan
Profesor Ruihong Zhang dari UC Davis menyekop sisa makanan dari restoran di San Francisco ke sistem pengubah energi biogas
Profesor Ruihong Zhang di kampus Universitas California Davis telah mengembangkan pencerna anaerobik yang menggunakan bakteri untuk mengubah sampah makanan, sisa hasil panen, dan biomass lainnya menjadi gas hidrogen serta metana yang dapat dibakar untuk menghasilkan listrik atau digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Proyek Energi Biogas dimulai oleh universitas tersebut dan dianggap sebagai alat peraga berskala besar yang pertama dari teknologi ini di Amerika Serikat. Setiap ton sampah makan dapat menghasilkan energi yang cukup untuk menghasilkan listrik bagi 10 rumah di Kalifornia setiap hari.
Sistem yang dikembangkan Profesor Zhang berbeda dari pencerna anaerobik lainnya yang dibiasanya digunakan di sarana pengolahan air kotor dan peternakan. Sistem ini dapat memproses lebih banyak macam benda padat dan sampah cair, termasuk sisa makanan, sampah pekarangan, rabuk hewan, dan jerami padi. Dibandingkan dengan sistem lainnya, sistem ini lebih efisien serta hanya memerlukan setengah dari waktu yang biasanya diperlukan untuk mengubah sampah menjadi energi. Lebih jauh lagi sistem ini menghasilkan dua gas bersih - hidrogen dan metana, sementara sistem yang lain hanya menghasikan metana.
Referensi: http://www.news.ucdavis.edu/search/news_detail.lasso?id=7915
Membuat Energi dari Air Asam
Petani Moses Urio berharap agar dia tidak harus membeli diesel lagi
Di Tanzania, sebuah pengalih bio-gas dikembangkan sebagai bagian dari proyek yang lebih besar yang didanai pemerintah Swiss untuk memberikan penghasilan tambahan kepada para petani kopi.
Sistem pengalih ini dapat mendaur-ulang limbah dari proses biji kopi mentah, yang sangat asam. Sifat asam ini sangat disukai oleh mikroorganisme, dan hasil akhir dari proses ini adalah gas metana yang dapat digunakan untuk menggantikan diesel sebagai sumber tenaga mesin para petani.
Sistem pengalih bio-gas ini tidak hanya menolong para petani untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dari kopi mereka, tetapi juga dapat mengurangi pengrusakan lingkungan yang dapat disebabkan oleh air yang bersifat asam.
Referensi: http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/6571547.stm
Menggunakan Bakteri untuk Memisahkan Hidrogen dari Sampah Coklat
Tim Riset Inggris yang dipimpin oleh Lynne Mackaskie di Universitas Birminghan, Inggris Tengah, menemukan bahwa bakteri Escherichia coli, bila diberi makan dengan limbah dari pabrik coklat maka akan memproduksi hidrogen, salah satu bahan bakar dari daur ulang paling bersih. Penemuan bahwa Hidrogen dapat dipisahkan dari sampah makanan dapat merupakan penemuan penting baik bagi industri dan lingkungan karena proses ini bekerja baik dengan banyak jenis limbah lainnya, tidak terbatas hanya pada limbah coklat.
Referensi: http://environment.about.com/od/renewableenergy/a/chocolatefuel.htm
Mengubah Limbah Makanan Menjadi Gas untuk Masak
Sebuah laboratorium nasional di Filipina telah mengembangkan biogas ringan ramah lingkungan yang dapat mengubah sampah dapur menjadi gas yang dapat digunakan melalui proses fermentasi alami. Sistem ini dapat menyimpan lebih dari 211 liter sampah dapur yang dapat diuraikan. Proses fermentasi memakan waktu semalam dan gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk keperluan masak untuk satu hari.
Referensi: http://www.ebc.org.ph/
Diposting oleh AnTeKpErT di 00.26 1 komentar
